Sepasang Malaikatku

Oleh: Nabiel Fikril Islami[1]

Malam ini sungguh indah sekali. Tak ada hujan seperti malam-malam yang lalu. Menyenangkan, suasana terasa damai menentramkan. Langit bersih tak tersaput awan. Bintang bertebaran menghias angkasa raya, membentuk ribuan formasi. Angin malam dengan lembut membelai kulit. Dingin. Menelisik, bernyanyi pula disela-sela daun telinga.

Aku menghela napas panjang. Dibawah sorot lampu kuning yang menenangkan, ditemani dengan seperangkat ATK[2] jemariku dengan lincah mulai merangkai kata. Disela-sela itu, tanganku dengan santun mengambil cangkir bertajuk Hot Chocolate. Menyeruputnya. Tenang seketika menyergap ujung jari, mengalir ke telapak tangan, melalui pergelangan, menerobos siku, bahu, kemudian tiba sampai ke hatiku.

Mencairkan seluruh perasaan.

Memupuk semua keinginan.

Malam ini, semua cerita harus usai.

֎֎֎

            Dari lantai dua Masjid Jami’ terbesar di kota ini, kalian dapat melihat dengan leluasa pemandangan jalan besar yang ramai persis didepannya, juga jalan paling besar di kota ini. Disana, nampak pula bola-bola Bollard[3] berjajar rapi di sepanjang tepian trotoar, menambah nilai keindahan serta estetikanya. Ditambah lagi, lampu sorot  yang berjajar rapi berbaur jadi satu bersama dengan ratusan siluet lampu mobil.

            Di lantai dua ini, aku mengamati dengan detail aktivitas manusia-manusia dikala malam datang. Ada sopir angkot yang masih sibuk mengantar penumpang, ada yang baru pulang dari kantor. Ada juga yang sibuk dengan Tuhannya, menghamba melakukan ritual tak kurang dari lima kali dalam sehari. Dan perihal yang terakhir inilah, yang selalu diajarkan oleh Paman Haikal kepadaku.

            “Ayo lam, kita pulang”. Sapa seorang laki-laki paruh baya berumur empat puluh tahun yang lebih ku kenal dengan sapaan Paman Ikal memecah lamunanku.

            “Iya Paman”. Jawabku seraya mengikuti langkah Paman Ikal.

            Paman Ikal sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri. Usiaku terpaut tiga puluh tahun lebih muda dari paman. Empat tahun lalu ayah meninggal karena penyakit jantung, disusul ibu setahun kemudian yang divonis meninggal dunia karena kanker hati. Aku dan Fatimah kemudian diasuh oleh Paman Ikal yang tinggal bersama Bibi Siti yang malangnya, selama lima belas tahun menikah belum dikaruniai anak.

Aku masih sekolah dibangku kelas 4 SD, Sementara fatimah baru berusia 3 tahun.

Saat ayah dan ibu meninggal dunia, kehidupan kami berdua kacau-balau. Paman Ikal dan Bibi Siti mati-matian bekerja pontang-panting demi menutup hutang biaya pengobatan bapak dan juga ibu. Semua aset mulai dari rumah, angkot, kulkas, TV bahkan cincin perkawinan Bibi Siti semuanya telah bersih terjual. Akan namun,  semuanya belum lunas terbayar. Masih ada sekitar satu juta hutang paman dan bibi untuk biaya kontrak tempat tinggal kami sekarang.

Sekarang, Paman Ikal bekerja sebagai pengumpul kardus dan botol plastik bekas. Sedangkan Bibi Siti sebagai buruh cuci baju keliling dari satu rumah ke rumah lain. Beliau berdua dengan tulus berjanji sepayah apapun kerja mereka akan tetap membiayai kami sampai lulus, minimal SD. Aku yang terdidik mandiri sepulang sekolah selalu ikut Paman Ikal bekerja, begitupun Fatimah ikut Bibi Siti walaupun cuman ikut bermain saja.

֎֎֎

            Aku menyeka sudut mataku yang berair.

            Oh tidak, Aku sudah berjanji kepada ibu untuk tidak menangis lagi sejak bapak meninggal. Apalagi hanya menangis hanya karena mengingat betapa susah-payahnya ibu dan bapak kala itu. Semuanya pasti akan berlalu (batinku mencoba membantah)

            Aku tidak akan menangis. Tapi apa mau dikata, satu-dua tetes air mata telah jatuh diatas kertas yang aku tulis. Tak terasa, sudah dua jam sejak aku duduk dibawah sorot lampu nan menenangkan ini. Malam mulai larut, coklat panas di depanku mulai dingin. Namun mataku tak sedikitpun terasa berat, bahkan tubuhku seakan tergerak "cerita ini seru bukan?, Apakah kau tega terputus begitu saja?". Tentu saja hati dan pikiranku seakan kompak menjawab "oh, tentu tidak".

            Enam bulan yang lalu, aku ijin dengan Paman Ikal dan Bibi Siti untuk mengikuti program pelatihan bahasa Inggris. Sebenarnya bukan pelatihan yang kuinginkan, melainkan sertifikat TOEFL-nya. Karena secara bahasa, walaupun sebagai mahasiswa jurusan Teknik Industri kemampuanku tak kalah hebat dengan mahasiswa jurusan sastra Inggris. Karena hobi membaca jurnal internasional membuatku harus mampu menguasai bahasa Inggris dengan detail.

            Sepuluh hari lagi, program pelatihan ini akan berakhir. Dan benar kata pepatah, sejauh burung terbang pasti akan kembali ke sangkar. Iya, aku akan kembali lagi. Tapi saat ini aku belum terbang, baru merangkak ke kota sebelah. Belum ke negara sebelah. Ah, masa depan memang selalu jadi rahasia. Dan akan selalu jadi rahasia bagi orang yang tanpa usaha.

֎֎֎

            Dua tahun berlalu. Waktu seolah berlari, begitu cepatnya melewati ruang-ruang dimensi kehidupan manusia. Dengan penuh perjuangan Paman Ikal dan Bibi Siti mencari nafkah untuk sekolah kami. Aku hampir lulus tiga bulan lagi begitu pula adekku 10 Bulan lagi masuk kelas satu SD. Sebulan lagi aku akan menghadapi UN, tak hanya tes ini saja aku belajar. Tiap hari bahkan disela-sela aku membantu Paman Ikal mencari rosok[4], aku selalu membawa buku pelajaran hasil warisan kakak kelas yang telah lulus.

            Sehari sebelum ujian bertepatan dengan bulan Ramadhan hari ke tujuh, sekaligus puasa pertama bagi Fatimah. Sore hari, aku dan Fatimah menyempatkan waktu untuk berkunjung ke makam ayah dan ibu. Mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua. Sore itu, dibawah cuaca yang cerah kami khusyuk memanjatkan doa dan kalimat thayyibah untuk ayah dan ibu kami. Sebelum beranjak dari makam, tiba-tiba Fatimah berkata lirih;

            “Assalamu’alaikum ibu…” ucap wanita cilik berusia hampir tujuh tahun itu.

            “Maaf, Fatimah dan Mas Alam baru sempat menjenguk ibu lagi”. Napasnya tersengal, tangis pun akhirnya pecah.

            “Ibu apa kabar?”, Fatimah punya kabar gembira buat ibu”. Setengah tawa bercampur tangis. Matanya yang sayu mulai berembun. Air matnya berlinang.

            “Puasa pertama Fatimah lancar bu. Hiks…hiks, hari ini genap seminggu Fatimah puasa sehari full bu. Teman-teman Fatimah disekolah diberi hadiah oleh orang tuanya bu, padahal hanya kuat setengah hari puasa”. Lirihnya, seiring dengan tangan mengusap wajahnya.

            “Fatimah istimewa ya bu? kata Bibi, Fatimah spesial di mata Allah”. Ia curahkan semua kepada ibunya. Ia tak peduli apakah ibunya mendengar atau tidak.   “Fatimah sudah berubah, Bu. Tidak lagi ngerepotin Bibi ataupun Paman. Bibi juga bilang baju Fatimah masih bagus-bagus semua, makanya Fatimah nggak meminta beli buk”. Sembari tersenyum getir, padahal hatinya getar. Tak ada tisu untuk mengusap. Aku mencoba menenangkannya, menghapus air mata yang mulai deras.

            Fatimah berbalik menghadap makam sebelahnya.

            “Assalamu’alaikum Ayah…”. Ia bersihkan rerumputan yang tumbuh di nisan Ayahnya.

            “Ayah baik-baik di Surga sama Ibu ya yah…”

            “Fatimah sama mas Alam janji akan nurut sama paman dan bibi yah…kami janji yah, kelak akan menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat, banggain Ayah, Ibu, Paman dan Bibi”. Suaranya tercekat sampai tenggorokan, kami mulai beranjak dari makam. Kami berdua pulang, dengan sejuta kerinduan dan harapan.

            Didalam lubuk yang paling dalam; Aku pun berdoa, semoga harapan Fatimah yang mewakili doaku juga, didengar oleh Tuhan. Aamiin.

֎֎

            Benar kata pepatah, bahwa usaha tak akan menghianati hasil. Aku berhasil menjadi lulusan SD dengan hasil Ujian Nasional terbaik di sekolah. Kepala sekolah berjanji menjamin SMP ku dengan beasiswa full sampai lulus, bahkan di SMP terfavorit di kota ini. Paman Ikal dan Bibi Siti menangis haru, mendengar namaku disebut sebagai murid dengan lulusan terbaik di sekolah.

            Tak terasa, masa SMP mampu kutempuh selama dua tahun dengan bantuan program akselerasi. Dan puji Tuhan, di SMP pula aku lulus dengan predikat terbaik di sekolah. Tiket masuk sekolah SMA dengan beasiswa full terbuka lebar. Dan berita bahagia lainnya adalah Paman Ikal tak lagi menjadi pengepul rosok pun Bibi Siti, tak lagi menjadi buruh cuci. Paman Ikal selama ini belajar cara mendaur ulang sampah menjadi barang berdaya jual tinggi dan sekarang sukses menjadi eksportir barang antik hasil daur ulang. Begitu pula dengan Bibi Siti, sekarang sukses mendirikan Fatimah laundry, pusat pencucian pakaian terbesar di kota kami. Dan sesuai dengan namanya, Fatimah di daulat sebagai manager utama kepercayaan Bibi Siti.

            Masa SMA-ku berjalan tak kalah mulus dari sekolah sebelumnya, selama dua tahun mampu kutempuh sampai lulus. Bahkan kali ini, aku berhasil mendapatkan satu tiket beasiswa Luar Negeri LPDP di Negeri Jiran. Kali ini tangisku pecah karena haru, batinku ingin berteriak: “buk, yah..kupersembahkan keberhasilan ini kepada mu, doaku senantiasa kupanjatkan disetiap selesai sholatku, semoga kalian bahagia di Surga sana…Aamiin”.

֎֎֎

            Tepat ditengah malam, tak terasa tiga jam telah berlalu. Hot Chocolate didepanku sempurna telah mendingin. Begitupun angin malam ini juga lekat menyengat wajah. Merambat. Menelisik sampai ke tulang. Dingin. Seakan alam mengaminiku untuk segera beristirahat. Dengan refleks, tanganku terpanggil untuk segera meminum cokelat yang tak lagi panas sampai habis.

            Kuletakkan alat tulis yang ada kedalam ranselku. Tak terasa, enam lembar cerita telah selesai kutulis. Waktunya merebahkan tubuh, karena besok akan ada acara perpisahan. Ya, Paman Ikal, Bibi Siti dan Adekku Fatimah menyiapkan khusus dalam rangka melepasku studi ke negeri sebelah. Negeri Jiran.

            Tak ada kata yang mewakili rasa selain doa. Semoga Ayah dan Ibu bahagia di alam sana. Tanpa mereka kami tak ada artinya, dua manusia yang dikirim Tuhan di dunia. Akan kusebut mereka berdua sebagai “sepasang malaikatku”.



[1] Penulis merupakan Mahasiswa Hukum Keluarga Islam semester 6 IAIN Salatiga, cerpen ini ditulis pada tanggal 25 Februari 2021.

[2] Alat Tulis Kantor; seperangkat alat tulis laiknya buku, pensil, bolpen, rautan dsb.

[3] Deretan bola-bola beton di tepi trotoar yang berfungsi sebagai pembatas antara jalan dan trotoar sekaligus meningkatkan keamanan dan kenyamanan para pedestrian.

[4] Barang bekas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesuai Amanat Presiden, PPKM Resmi Diperpanjang Sampai Tanggal 2 Agustus 2021